Jalan Jaksa Agung Suprapto 61
03713981353

Sejarah

Di publish pada 29-05-2023 04:23:04

Sejarah
Sejarah

BEA CUKAI Sejak abad ke-11, Gresik menjadi pusat perdagangan dan kota bandar yang dikunjungi banyak bangsa seperti, Cina, Arab, Champa, dan Gujarat. Gresik  juga sebagai pintu masuk Islam pertama di Jawa, yang antara lain ditandai dengan adanya makam-makam Islam kuno dari Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun. Gresik sudah menjadi salah satu pelabuhan utama dan kota dang yang cukup penting sejak abad ke-14, serta menjadi tempat persinggahan kapal-kapaldaru Maluku menuju Sumatera dan daerah daratan Asia (termasuk India dan Persi). Hal ini berlajut hingga era VOC. Tahun 1411 penguasan Gresik, seorang kelahiran Guangzhou, mengirim utusan ke kaisar Tionkok. Pada abad ke-15, Gresik menjadi pelabuhan dagang internasional yang besar. Dalam Suma Orientalnya, Tome Pires menyebutnya sebagai “permata pulau Jawa, di antara pelabuhan dagang”

Pada awalnya kota gresik adalah Tendes. Seiring berjalannya waktu berubah menjadi Gerawasi kemudian berubah lagi menjadi Grisse dan untuk terakhir kalinya berubah lagi menjadi Gresik hingga sekarang.

Pada era VOC, Afdeeling Gresik terdiri dari Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Sedayu. Kota Gresik sendiri berada pada jalur utama jalan pos Daendles. Perkembangan Surabaya yang cukup pesat memaksa dihapuskannya Kabupaten Gresik dan bergabung dengan Kabupaten Surabya pada tahun 1934. Pada awal Kemerdekaan Indonesia, Gresik hanyalah sebuah kawedanan di bawah Kabupaten Surabaya. Didirikannya Pabrik Semen gresik pada tahun 1974, status Kabupaten Surabaya dihapus dan sebagai penggantinya adalah Kabupaten Gresik, dengan Bupati pertama H.Soeflan. Kawasan permukiman pun semakin melebar, dan bahkan pusat pemerintahan dipindahkan ke Kawasan Bunder. Menurut literatur sejarah yang diterbitkan dari situs resmi pemerintah Kabupaten Gresik (http://gresikkab.go.id/profil/sejarah), bahkan Gresik sudah dikenal sejak abad ke-11 ketika tumbuh menjadi pusat perdagangan tidak saja antar pulau tetapi sudah meluas ke berbagai negara. Sebagai kota bandar, Gresik banyak dikunjungi pedagang Cina, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Bengali, Campa dan lain-lain. Gresik mulai tampil menonjol dalam peraturan sejarah sejak berkembangnya agama islam di tanah jawa. Pembawa dan penyebar agama Islam tersbut tidak lain adalah Syech Maulana Malik Ibrahim yang bersama-sama Fatimah Binti Maimun masuk ke Gresik pada awal abad ke -11. Sejak Lahir dan berkembangnya kota Gresik selain berawal dari masuknya agama islam yang kemudian menyebar ke seluruh Pulau Jawa, tidak terlepas dari nama Nyai Ageng Pinati, dari janda kaya raya yang juga seorang syahbandar, inilah nantinya akan kita temukan nama seseorang yang kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya Kota Gresik.

“Permata Pulau Jawa di Antara Pelabuhan Dagang" by: Tome’ Pires

Dia adalah seorang bayi asal Blambangan (Kabupaten Banyuwangi) yang dibuang ke laut oleh orang tuanya, dan ditemukan oleh para pelaut, anak buah Nyai Ageng Pinatih yang kemudian diberi nama Jaka Samudra. Setelah perjaka bergelar raden paku yang kemudian menjadi penguasa pemerintah yang berpusat  di Giri Kedaton, dari tempat inilah dia kemudian dikenal dengan panggilan Sunan Giri. Jikalau Syeh Maulana Malik Ibrahim pada jamannya sebagai para penguasa, tiang para raja dan menteri, maka Sunan Giri disamping kedudukannya sebagai seorang sunan atau wali ( penyebar agama islam ) juga dianggap sebagai Sultan / Prabu (Penguasa Pemerintahan) Sunan Giri menjadi salah satu tokoh wali songo, juga dikenal dengan nama Prabu Satmoto atau Sultan Ainul Yaqin tahun dimana dia dinobatkan sebagai penguasa pemrintahan (1487 M) akhirnya dijadikan sebagai hari lahirnya Kota Gresik. Dia memerintah Gresik selama 30 tahun dan dilanjutkan oleh keturunannya sampai kurang lebih 200 tahun. Menjabata sebagai bupati yang pertama adalah Kyai Ngabehi Tumenggung Poesponegoro pada tahun 1917 saka, yang jasadnya dimakamkan di komplek makam Poesponegoro di jalan pahlawan gresik, satu komplek dengan makam Syech Maulana Malik Ibrahim. Kota Gresik terkenal sebagai kota wali, hal ini ditandai dengan panggilan sejarah yang berkenaan dengan peranan dan keberadaan para wali yang makamnya berada di Kabupaten Gresik yaitu, Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Disamping itu, Kota Gresik juga disebut dengan Kota Santri, karena keberadaanya pondok-pondok pesantren dan sekolah yang bernuansa islami, yaitu Madrasah Ibtida’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) hingga perguruan tinggi yang cukup banyak di kota ini. Hasil kerajinan yang bernuansa Islam juga dihsilkan oleh masyarakat Kota Gresik, misalnya kopyah, sarung, mukena, sorban dan lain-lain. Semula kabupaten ini bernama Kabupaten Surabya ( masuk wilayah administrasi Surabaya). Memasuki dilaksanakannya PP Nomor 38 tahun 1974. Seluruh kegiatan pemerintahan mulai berangsur-angsur dipindahkan ke Gresiik dan namanya kemudian berganti dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Gresik dengan pusat kegiatan di Kota Gresik. Kabupaten Gresik yang merupakan subwilayah pengembangan bagian (SWPB.

Tidak terlepas dari kegiatan subwilayah pengembangan Gerbang Kertasusila (Gresik, Bangkalan, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan). Termasuk salah satu bagian dari 9 subwilayah pengembangan Jawa Timur yang kegiatannya diarahkan pada sektor pertanian, industri, perdagangan, maritim, pendidikan, dan industri wisata. Dengan ditetapkannya Gresik sebagai bagian salah satu wilayah pengembangan Gerbang-kertosusila dan juga sebagai wilayah industri, maka kota gresik menjadi lebih terkenal dan termashur, tidak saja di persada nusantara tetapi juga ke seluruh dunia yang ditandai dengan munculnya industri multi modern yang patut dibanggakan bangsa Indonesia. Gresik dikenal sebagai salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Beberpa industri di Gresik antara lain Semen Gresik, Petrokimia Gresik, Nippon Paint, BHS-Tex, Industri perkayuan/ Plywood dan Maspion. Gresik juga merupakan penghasil perikanan yang cukup signifikan, baik perikanan laut, tambak, maupun perikanan Gresik juga terdapat sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap berkapasitas 2.200 MW. Antara Gresik dan Surabaya dihubungkan oleh sebuah Jalan Tol Surabay-Manyar, yang terhubung dengan Jalan Tol Surabaya-Gempol. Selain itu perekonomian masyarakat Gresik banyak ditopang dari sektor wiraswasta. Salah satunya yaitu industri Songkak, Pengraji Tas, Pengrajin Perhiasan Emas dan Perak, Industri Garment (konveksi).

 

#beacukaigresik #beacukairi #beacukaimakinbaik #BeaCukaiRI